Wow, 90 Persen Orang Indonesia Alami Nyeri Kepala

loading...

Jakarta – Hasil konsensus nasional Kelompok Studi Nyeri Kepala Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2013 menyebutkan 90 persen penduduk Indonesia pernah mengalami nyeri kepala.

Nyeri kepala dibedakan atas nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala sekunder akibat adanya kerusakan jaringan pada daerah setempat karena penyakit tertentu. Nyeri kepala primer terdiri dari migren, nyeri kepala tipe tegang dan nyeri kepala kluster.

Hasil studi populasi Balitbangkes Kemenkes RI, penderita migren di Indonesia mencapai 22,4 persen. World Health Organization (WHO) menempatkan migren sebagai penyebab disabilitas ketujuh di dunia.

Migren yaitu nyeri kepala primer sesisi, kedua sisi dan bisa pula tak mempunyai spesifikasi dalam lokasi, umumnya sifat nyeri berdenyut, dengan keparahan sedang sampai berat, mampu disertai rasa mual dan atau muntah.Kemudian, menimbulkan ketidaknyamanan terhadap paparan cahaya atau suara, aktivitas fisik berdampak memperburuk keparahan nyeri kepala.

Menurut hasil formula dari Pakar Neurologi FKUI dalam disertasi doktor Dr. Salim Harris, Sp.S(K), FICA, Jakarta, baru – baru ini menjelaskan, Indeks vaskular migren (IVM) yaitu rumus baru yg didasarkan atas penilaian dengan memakai Doppler transkranial dengan modalitas ultrasonografi. Rumus IVM yg diciptakan ini sudah divalidasi dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Indonesia buat menjadi hak atas kekayaan intetektual (HAKI) yg dikeluarkan oleh Kemenkumham RI 1 Januari 2017 dan sudah mendapatkan piagam penghargaan kekayaan intelektual 2017 kategori non paten tercatat dari Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis (DIIB) Awards 2017 Universitas Indonesia.

Nilai IVM tersebut bisa dijadikan penilaian objektif bagi memastikan apakah seseorang yg diduga migren, benar menderita migren sesuai dengan gambaran pembuluh darah otak yg diperiksa. Dalam membuat diagnosis tersebut penilaian IVM dikerjakan dengan memakai teknik ultrasonografi merupakan Doppler transkranial dengan cara menempelkan probe transducer 2MHz pada kepala bagian temporal bagi menilai perubahan aliran pembuluh darah otak penderita terduga migren dengan stimulasi menahan napas dan bernapas cepat, masing-masing selama 30 detik.

Dengan memakai aplikasi rumus IVM maka data yg didapat dari pemeriksaan Doppler transkranial tersebut bisa menjawab apakah seorang terduga migren benar-benar menderita migren. Migren sudah diketahui sebagai faktor risiko terjadinya stroke. Tentu pemeriksaan IVM sangat bermanfaat bagi menjaring orang dengan benar migren agar mendapatkan pengobatan yg tepat.

Semakin lama migren tak tertangani, semakin berat dan semakin sulit penanganan selanjutnya. Pemeriksaan IVM sangat menjanjikan bagi menjawab diagnosis migren secara objektif karena memiliki sensitivitas 94,23 persen dan spesifisitas 91,67 persen.

Dengan menggabungkan wawancara klinis (anamnesis) memakai IHS/MS-Q versi Indonesia yg baik dan pemeriksaan IVM, sensitivitas pemeriksaan ditingkatkan menjadi 98,08 persen.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

loading...
(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *